Hari Kamis tanggal 15 Januari 2009. Banyak orang berkerumun di jalan Bambang Sugeng, Kabupaten Wonosobo. Tepatnya di samping Hotel Mandalawangi. Pita kuning terpasang memagari sebuah toko. Furniture hangus beserta dipan dan kasur yang sebagian sudah terbakar, terhampar di halaman. Berserakan.
Tepat di bagian belakang toko yang masih merupakan satu rumah dengan toko di depannya, asap masih mengepul dan orang-orang berlarian berusaha memadamkan api dengan berbagai cara. Tapi api tetap menghabiskan atap bangunan belakang itu.
Di sana-sini tampak kesibukan untuk menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan.
Dari semua yang hangus dan dari puing-puing. Pemilik rumah maupun tetangga sibuk bekerja. Walaupun yang diselamatkan barang yang sudah hangus. Masih bisa digunakankah barang yang hangus?
Begitulah yang terjadi. Dari puing-puing manusia membangun. Menyelamatkan apa yang bisa dan memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Dari yang terjadi di lapangan, terlihat jelas bahwa pada dasarnya mereka, kita semua, mempunyai sifat bawaan membangun dan memperbaiki. Dengan cara itu maka spirit kita juga terbangun. Hingga perlahan terbentuk kemajuan-kemajuan.
Rumah yang terbakar, tidak jarang dibangun dengan bangunan yang lebih megah. Lebih kokoh. Setiap kehancuran diupayakan pembenahannya. Bahkan peningkatannya. Itulah bentuk dari Firman Tuhan “Jadi” maka “Jadilah”. Melalui tiupan angin, panasnya api, melalui tangan manusia, pikiran, hati bahkan hasrat manusia maka kehendak Sang Pencipta terbentuk. Dengan cara terbakar, maka bangunan semakin megah. Dengan cara roboh maka bangunan berdiri. “Jadi” maka “Jadilah”.
Rumah terbakar tapi spirit pemilik rumah untuk membangun tetap terlihat nyata. Mereka sibuk menyelamatkan spiritnya. Sebagai perwujudan dari “Jadi”. Manusia berpikir, merencana dan berbuat. Mengoreksi dan meningkatkan. Itulah kodrat kita, manusia. Berusaha. Dan sudah ada yang menentukan. Api boleh membakar, rumah boleh jadi puing, manusia tetap membangan. Spirit tidak pernah hangus, tetap tertinggal walaupun rumah terbakar.
Jika datang hari kiamat dan di telapak tanganmu terdapat bijih tanaman, maka tanamlah.
Masih kurang firmannya: Jika kamu MENANAM maka kamu akan MENUAI.
BalasHapusBelum ada artikel lain ya??
BalasHapus